
Istilah superflu belakangan ini banyak dibicarakan, terutama di kalangan orang tua. Superflu merujuk pada infeksi yang disebabkan oleh varian terbaru virus Influenza A subtipe H3N2, yang dikenal sebagai subclade K. Meski mengalami perubahan genetik dibandingkan varian sebelumnya, hingga saat ini belum ditemukan bukti bahwa varian ini lebih berbahaya. Namun, karena penyebarannya tergolong cepat, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan.
Di negara beriklim tropis seperti Indonesia, virus influenza dapat beredar sepanjang tahun. Sejak September 2025, virus H3N2 dilaporkan mulai mendominasi dan menggantikan jenis influenza lain, seperti H1N1.
Anak Lebih Rentan Terinfeksi
Anak-anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang, sehingga belum sepenuhnya memiliki perlindungan terhadap varian virus baru. Aktivitas anak di lingkungan sekolah dan tempat bermain yang padat juga meningkatkan risiko penularan antarindividu.
Cara Penularan Superflu
Virus H3N2 menular dengan cara yang sama seperti influenza pada umumnya, yaitu melalui:
- Percikan droplet, yang keluar saat penderita batuk, bersin, atau berbicara
- Kontak langsung, seperti berjabat tangan atau bersentuhan dengan penderita
- Kontak tidak langsung, melalui benda yang terkontaminasi virus, seperti mainan, gagang pintu, atau peralatan makan, kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut
Gejala yang Perlu Diperhatikan
Infeksi superflu umumnya muncul secara mendadak dan dapat disertai beberapa keluhan berikut:
- Demam tinggi, yang dapat meningkat hingga 39°C atau lebih
- Nyeri otot dan sendi, membuat anak tampak rewel atau mudah menangis
- Batuk kering dan nyeri tenggorokan, disertai rasa tidak nyaman saat menelan dan napas terasa berat
- Kelelahan yang berat, anak terlihat lemas, enggan makan, dan tidak beraktivitas seperti biasa
- Keluhan saluran cerna, seperti mual, muntah, atau diare
Langkah Pencegahan yang Dianjurkan
Untuk menurunkan risiko penularan superflu, orang tua dapat melakukan beberapa upaya berikut:
- Melakukan vaksinasi influenza secara rutin setiap tahun
- Membiasakan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik
- Menerapkan etika batuk dan bersin dengan menutup mulut menggunakan siku bagian dalam
- Menggunakan masker, terutama bagi anak usia di atas 5 tahun saat berada di tempat umum
- Menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit
- Menjaga daya tahan tubuh anak, melalui asupan gizi seimbang, cairan yang cukup, dan istirahat yang memadai
Penanganan Awal di Rumah
Apabila anak mulai menunjukkan gejala superflu, orang tua diimbau untuk tetap tenang dan melakukan penanganan awal sebagai berikut:
- Memberikan waktu istirahat yang cukup agar sistem imun bekerja optimal
- Memastikan kecukupan cairan, seperti ASI, susu, air putih, sup hangat, oralit, atau jus buah (untuk anak usia di atas 1 tahun)
- Memberikan obat penurun panas, seperti paracetamol sesuai dosis berat badan
- Melakukan isolasi sementara, guna mencegah penularan kepada anggota keluarga lainnya
- Memantau tanda bahaya, seperti sesak napas atau tanda dehidrasi (jarang buang air kecil, tampak sangat lemas), dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan
Perlu diingat bahwa superflu disebabkan oleh virus, sehingga antibiotik tidak dianjurkan, kecuali atas indikasi dan resep dokter bila terdapat infeksi bakteri tambahan.
Kapan Perlu Berkonsultasi ke Dokter?
Segera periksakan anak ke dokter apabila demam tidak membaik dalam waktu tiga hari, muncul tanda bahaya, atau bila anak memiliki riwayat penyakit kronis seperti asma.
Penulis : PKRS RS Santa Elisabeth








