Mengapa Memilih Kami?
Dedikasi kami untuk kesehatan dan kenyamanan Anda.
Menerima BPJS
Kami melayani pasien peserta BPJS Kesehatan untuk mempermudah akses layanan kesehatan.
Layanan 24 Jam
Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan layanan penunjang kami siap siaga 24 jam penuh.
Dokter Ahli
Ditangani oleh tim dokter spesialis dan tenaga medis profesional yang berpengalaman.
Layanan Home Care
Layanan kunjungan medis ke rumah untuk pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan.
Berita & Artikel
Informasi kesehatan terkini untuk Anda dan keluarga.

Kebersihan tangan merupakan salah satu upaya paling efektif dalam mencegah penyebaran infeksi, baik di fasilitas pelayanan kesehatan maupun di masyarakat. Namun, bukti menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap praktik kebersihan tangan masih belum optimal secara global. Hingga tahun 2018, tingkat kepatuhan rata-rata di unit perawatan intensif mencapai 59,6%, dengan perbedaan yang cukup besar antara negara berpenghasilan tinggi (64,5%) dan negara berpenghasilan rendah (9,1%) (de Kraker et al., 2019).Rendahnya kepatuhan ini menunjukkan pentingnya peningkatan kesadaran dan edukasi mengenai praktik kebersihan tangan yang benar. Salah satu metode yang paling sederhana dan efektif adalah mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.Cuci tangan merupakan proses pembersihan tangan secara mekanis untuk menghilangkan kotoran dan mikroorganisme menggunakan sabun dan air mengalir (WHO, 2009). Meskipun tangan terlihat bersih, berbagai kuman seperti bakteri dan virus tetap dapat menempel setelah beraktivitas sehari-hari.Cuci tangan pakai sabun terbukti efektif dalam mencegah berbagai penyakit, seperti diare dan infeksi saluran pernapasan (CDC, 2022). Menurut Kementerian Kesehatan kebiasaan cuci tangan perlu dilakukan secara rutin, terutama pada waktu-waktu penting seperti:Sebelum dan sesudah makanSetelah menggunakan toiletSetelah batuk atau bersiSetelah menyentuh benda di tempat umum Adapun langkah-langkah mencuci tangan yang benar meliputi:Membasahi tangan dengan air mengalirMenggunakan sabun secukupnyaRatakan sabun dengan kedua telapak tanganGosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan sebaliknyaGosok kedua telapak dan sela-sela jariGosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan sebaliknyaGosokkan dengan memutar ujung jari tangan kanan di telapak tangan kiri dan sebaliknyaBilas dengan air bersih yang mengalirKeringkan tangan anda dengan kain sekali pakai atau tissueDan tangan anda sudah aman.Poster Langkah Cuci TanganKebiasaan mencuci tangan secara rutin tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga orang lain dari risiko penularan penyakit. Dengan demikian, praktik ini menjadi bagian penting dalam upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan.Cuci tangan pakai sabun merupakan tindakan sederhana namun memiliki dampak besar dalam pencegahan penyakit. Meskipun demikian, tingkat kepatuhan terhadap praktik kebersihan tangan masih perlu ditingkatkan melalui edukasi dan sosialisasi yang berkelanjutan. Dengan menerapkan kebiasaan mencuci tangan secara benar dan rutin, diharapkan dapat menurunkan angka kejadian penyakit menular serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Daftar Pustakade Kraker MEA, Tartari E, Tomczyk S, Twyman A, Francioli LC, Cassini A, et al. Implementation of hand hygiene in health-care facilities: results from the WHO Hand Hygiene Self-Assessment Framework global survey 2019. Lancet Infect Dis. 2019.World Health Organization. WHO guidelines on hand hygiene in health care. Geneva: WHO Press; 2009.Centers for Disease Control and Prevention. Handwashing: clean hands save lives. Atlanta: CDC; 2022.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Jakarta: Kemenkes RI; 2020. -PKRS

Setiap tanggal 25 April, dunia memperingati Hari Malaria Sedunia sebagai pengingat bahwa meskipun penyakit ini telah dikenal sejak lama, malaria masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan global, terutama di negara tropis seperti Indonesia.Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk betina dari genus Anopheles. Ketika nyamuk yang terinfeksi menggigit manusia, parasit masuk ke dalam aliran darah dan kemudian menuju hati sebelum akhirnya menginfeksi sel darah merah. Proses inilah yang menjadi dasar munculnya berbagai gejala klinis malaria.Terdapat beberapa jenis malaria yang dibedakan berdasarkan spesies parasit penyebabnya. Yang paling sering ditemukan adalah Plasmodium falciparum, yang dikenal sebagai penyebab malaria berat dan berpotensi fatal. Selain itu, terdapat Plasmodium vivax, yang sering menyebabkan kekambuhan karena parasit dapat “bersembunyi” di hati dalam bentuk dorman. Jenis lainnya seperti Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale umumnya menyebabkan gejala yang lebih ringan, meskipun tetap memerlukan penanganan yang tepat.Gejala malaria seringkali dimulai dengan demam yang muncul secara periodik, disertai menggigil hebat, berkeringat, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Pola demam ini khas karena mengikuti siklus pecahnya sel darah merah yang terinfeksi parasit. Pada kasus yang lebih berat, terutama akibat Plasmodium falciparum, kondisi dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti anemia berat, gangguan kesadaran (malaria serebral), gagal ginjal, hingga kematian.Yang membuat malaria tetap berbahaya adalah kemampuannya berkembang cepat bila tidak segera ditangani. Oleh karena itu, diagnosis dini menjadi kunci. Pemeriksaan laboratorium seperti apusan darah tebal dan tipis masih menjadi standar emas untuk mengidentifikasi parasit. Saat ini, rapid diagnostic test (RDT) juga banyak digunakan untuk deteksi cepat di lapangan.Penanganan malaria telah mengalami banyak perkembangan. Terapi utama saat ini adalah penggunaan obat antimalaria berbasis kombinasi artemisinin (ACT), yang terbukti efektif melawan sebagian besar spesies Plasmodium. Pemilihan regimen terapi disesuaikan dengan jenis parasit, tingkat keparahan, serta kondisi pasien. Pada kasus malaria berat, terapi harus diberikan secara intravena di fasilitas kesehatan dengan pemantauan ketat.Namun, pengobatan saja tidak cukup. Upaya pencegahan memegang peranan yang sangat penting dalam menekan angka kejadian malaria. Penggunaan kelambu berinsektisida, penyemprotan rumah dengan insektisida residual, serta pengendalian lingkungan untuk mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk merupakan langkah-langkah yang telah terbukti efektif. Selain itu, penggunaan obat profilaksis pada kelompok berisiko tinggi juga dapat dipertimbangkan.Di tingkat global, World Health Organization melaporkan bahwa ratusan juta kasus malaria masih terjadi setiap tahunnya, dengan angka kematian yang signifikan, terutama pada anak-anak di wilayah Afrika Sub-Sahara. Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan dalam eliminasi malaria, meskipun beberapa daerah telah berhasil mencapai status bebas malaria.Kondisi lingkungan, perubahan iklim, mobilitas penduduk, serta resistensi terhadap obat dan insektisida menjadi faktor yang terus mempersulit upaya pengendalian malaria. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan harus bersifat komprehensif, melibatkan sektor kesehatan, lingkungan, dan masyarakat.Hari Malaria Sedunia bukan hanya sekadar peringatan, tetapi juga ajakan untuk terus meningkatkan kesadaran dan komitmen dalam melawan penyakit ini. Malaria bukanlah penyakit masa lalu. Ia masih ada, masih mengancam, dan masih membutuhkan perhatian kita semua.Malaria tidak menunggu. Maka kesadaran, pencegahan, dan tindakan kita juga tidak boleh terlambat.drg. Sukma Paramastri, Sp.KGPKRS

Setiap tahun, dunia memperingati Hari Bising Sedunia sebagai pengingat bahwa suara yang sering kita anggap biasa dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan jika melebihi batas aman. Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi kendaraan, mesin, musik keras, hingga aktivitas industri, paparan bising telah menjadi bagian dari keseharian yang sering diabaikan.Secara ilmiah, bising didefinisikan sebagai suara yang tidak diinginkan dan berpotensi mengganggu kesehatan serta kenyamanan. Tidak semua suara berbahaya, tetapi ketika intensitasnya tinggi dan berlangsung lama, dampaknya bisa melampaui sekadar gangguan—bahkan hingga merusak fungsi tubuh.Apa Itu Bising dan Bagaimana Dampaknya? Bising diukur dalam satuan desibel (dB). Organisasi seperti World Health Organization menetapkan bahwa paparan suara di atas 85 dB dalam waktu lama dapat menyebabkan gangguan pendengaran.Namun, dampak bising tidak hanya terbatas pada telinga. Paparan kronis dapat memengaruhi:• Sistem saraf (menyebabkan stres dan kecemasan)• Sistem kardiovaskular (meningkatkan risiko hipertensi)• Kualitas tidur (gangguan tidur kronis)• Konsentrasi dan produktivitasDengan kata lain, bising adalah masalah kesehatan sistemik, bukan hanya gangguan lokal pada telinga.Jenis-Jenis BisingBising dapat diklasifikasikan berdasarkan karakteristiknya:1. Bising kontinuSuara yang berlangsung terus-menerus, seperti mesin industri.2. Bising intermitenSuara yang muncul dan hilang, seperti lalu lintas kendaraan.3. Bising impulsifSuara mendadak dengan intensitas tinggi, seperti ledakan atau petasan.4. Bising frekuensi rendah dan tinggiMasing-masing memiliki dampak berbeda terhadap persepsi dan kenyamanan manusia.Kondisi Klinis Akibat Bising Paparan bising yang berlebihan dapat menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai Noise-Induced Hearing Loss (NIHL), yaitu gangguan pendengaran akibat kerusakan sel rambut di koklea yang bersifat permanen.Gejala awal sering kali tidak disadari, seperti:• Telinga berdenging (tinnitus)• Kesulitan mendengar percakapan di tempat ramai• Penurunan sensitivitas terhadap suara frekuensi tinggiJika paparan terus berlanjut, kerusakan menjadi irreversibel.Seberapa Besar Masalah Ini?Menurut data global dari World Health Organization:• Lebih dari 1 miliar remaja dan dewasa muda berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat paparan bising• Sekitar 430 juta orang di dunia hidup dengan gangguan pendengaran yang signifikan• Paparan bising lingkungan (lalu lintas, urbanisasi) menjadi salah satu faktor utamaDi negara berkembang, termasuk Indonesia, angka ini berpotensi lebih tinggi karena kurangnya kesadaran dan perlindungan terhadap paparan bising.Penanganan dan ManajemenPenanganan gangguan akibat bising bergantung pada tingkat keparahan:1. Deteksi dinio Pemeriksaan audiometrio Skrining pada populasi berisiko2. Intervensi mediso Terapi suportifo Alat bantu dengar pada kasus berat3. Rehabilitasio Pelatihan komunikasio Edukasi pasienNamun perlu dipahami, pada banyak kasus, kerusakan pendengaran akibat bising tidak dapat dipulihkan sepenuhnya.Antisipasi dan PencegahanPencegahan adalah kunci utama. Beberapa langkah yang dapat dilakukan:• Menggunakan pelindung telinga (earplug/earmuff) di lingkungan bising• Membatasi penggunaan earphone dengan volume tinggi• Mengatur durasi paparan suara• Menerapkan regulasi kebisingan di lingkungan kerja• Edukasi masyarakat sejak diniKonsep sederhana yang sering digunakan adalah aturan 60/60: mendengarkan audio maksimal 60% volume selama tidak lebih dari 60 menit.Makna Hari Bising Sedunia Hari Bising Sedunia bukan hanya tentang mengurangi suara, tetapi tentang menjaga kualitas hidup. Di era modern, kita tidak bisa sepenuhnya menghindari bising, tetapi kita bisa mengelolanya. Kesadaran menjadi langkah pertama. Karena sering kali, kerusakan terjadi bukan karena kita tidak tahu, tetapi karena kita tidak menyadari dampaknya sejak awal. Bising mungkin tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata dan dapat berlangsung seumur hidup. Setiap suara yang terlalu keras, setiap paparan yang terlalu lama, perlahan mengikis kemampuan kita untuk mendengar dunia dengan jelas."Hari ini, kita punya pilihan: mengabaikan, atau mulai melindungi. Karena menjaga pendengaran bukan hanya tentang telinga tetapi tentang mempertahankan kualitas hidup, komunikasi, dan koneksi kita dengan dunia di sekitar."drg. Sukma Paramastri, Sp.KGPKRS
