RS Santa Elisabeth Ganjuran

Mengapa Memilih Kami?

Dedikasi kami untuk kesehatan dan kenyamanan Anda.

Menerima BPJS

Kami melayani pasien peserta BPJS Kesehatan untuk mempermudah akses layanan kesehatan.

Layanan 24 Jam

Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan layanan penunjang kami siap siaga 24 jam penuh.

Dokter Ahli

Ditangani oleh tim dokter spesialis dan tenaga medis profesional yang berpengalaman.

Layanan Home Care

Layanan kunjungan medis ke rumah untuk pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan.

Berita & Artikel

Informasi kesehatan terkini untuk Anda dan keluarga.

Lihat Semua
Webinar Nasional "Kolaborasi Profesional dalam Penatalaksanaan Trauma Dental Geriatri untuk Meningkatkan Kualitas Hidup"
kesehatan

Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada kelompok lanjut usia, pada tanggal 21 Mei 2026 RS Santa Elisabeth menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk “Kolaborasi Profesional dalam Penatalaksanaan Trauma Dental Geriatri untuk Meningkatkan Kualitas Hidup.” Kegiatan ini menjadi wadah ilmiah bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan pemahaman dan kompetensi dalam menerapkan kolaborasi profesional yang efektif pada penatalaksanaan trauma dental geriatri secara komprehensif guna meningkatkan kualitas hidup pasien lanjut usia.Wbinar Nasional.jpg 1.57 MBTrauma dental pada pasien lansia merupakan kondisi yang memerlukan perhatian khusus karena berkaitan erat dengan fungsi mastikasi, fonetik, estetika, hingga kualitas hidup pasien secara menyeluruh. Oleh karena itu, penatalaksanaan yang tepat dan kolaboratif antara dokter gigi umum, dokter gigi spesialis, serta terapis gigi dan mulut menjadi faktor penting dalam menunjang keberhasilan perawatan pasien geriatri.Narasumber ke-1.jpg 1.32 MBPada webinar ini, drg. Paulus Paksi Inggil Lumaksita, M.Biomed selaku Dokter Gigi RS Santa Elisabeth membawakan materi berjudul “Penatalaksanaan Primer Trauma Dental Pasien Geriatri dalam Praktik Sehari-hari untuk Meningkatkan Kualitas Hidup.” Materi tersebut membahas penanganan awal trauma dental pada pasien lansia dalam praktik klinis sehari-hari. Penatalaksanaan primer trauma dental yang cepat, tepat, dan berbasis bukti pada pasien geriatri tidak hanya mempertahankan struktur gigi, tetapi juga menjaga fungsi mastikasi, komunikasi, status nutrisi, interaksi sosial, serta kualitas hidup pasien lanjut usia.Narasumber ke-2.jpg 1.64 MBSelanjutnya, drg. Sukma Paramastri, Sp.KG selaku Dokter Spesialis Konservasi Gigi RS Santa Elisabeth menyampaikan materi “Penatalaksanaan Spesialistik Trauma Dental pada Geriatri.” Dalam sesi ini dipaparkan pendekatan spesialistik dalam menangani trauma dental geriatri, mulai dari proses diagnosis, perawatan konservatif, hingga rehabilitasi fungsi gigi dan rongga mulut pasien lansia.Narasumber ke-3.jpg 1.5 MBMateri berikutnya disampaikan oleh Titi Nur Wahyuni, S.Tr.Kes selaku Terapis Gigi dan Mulut RS Santa Elisabeth dengan topik “Strategi Terapis Gigi dan Mulut dalam Mempertahankan Fungsi Mastikasi dan Fonetik untuk Peningkatan Kualitas Hidup Lansia.” Materi ini menekankan pentingnya peran terapis gigi dan mulut dalam membantu mempertahankan fungsi pengunyahan dan kemampuan berbicara pasien lansia sebagai bagian dari pelayanan kesehatan yang berkelanjutan. Terapis gigi dan mulut memiliki peran strategis dalam intervensi promotif, preventif, dan pemeliharaan fungsi mastikasi serta fonetik pada lansia untuk meningkatkan kualitas hidup.Moderator.jpg 2.03 MBKegiatan webinar dipandu oleh moderator, dr. Citra Kartika, Dokter Umum RS Santa Elisabeth, yang memandu jalannya diskusi secara interaktif dan komunikatif. Webinar nasional ini ditujukan bagi tenaga kesehatan profesi, meliputi dokter gigi, dokter gigi spesialis penyakit mulut, serta terapis gigi dan mulut.MC.jpg 1.83 MBMelalui kegiatan ini, diharapkan peserta dapat memperoleh wawasan ilmiah terkini, meningkatkan kompetensi profesional, serta memperkuat kolaborasi antarprofesi dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang optimal bagi pasien geriatri sehingga dapat mendukung peningkatan kualitas hidup lansia secara menyeluruh.Panitia.jpg 1.32 MB-PKRS

Menanam Bahagia di Tengah Badai: Cara Menjaga Mental Tetap Tangguh
kesehatan

Kesehatan mental merupakan kedamaian secara mental, memahami kelebihan dirinya, mampu berpartisipasi terhadap komunitas atau lingkungannya. Seseorang dapat dikatakan sehat mental apabila kondisi fisik, rohani, dan sosialnya mampu sehat secara utuh. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan dan menghargai orang lain.Kesehatan mental bersifat dinamis dan memiliki cakupan yang beragam, bukan sekedar satu kondisi yang menetap. Terdapat 3 Jenis Masalah Kesehatan Mental yaitu:1. StressStres adalah keadaan ketika seseorang mengalami tekanan yang sangat berat, baik secara emosi maupun mental.2. Gangguan KecemasanGangguan kecemasan adalah kondisi psikologis ketika seseorang mengalami rasa cemas berlebihan secara konstan dan sulit dikendalikan.3. DepresiDepresi adalah gangguan suasana hati yang menyebabkan penderita terus-menerus merasa sedih hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Cara Menanam Bahagia Saat Situasi SulitMerawat diri sendiri adalah langkah awal yang paling penting. Mental yang tertekan tak cuma merusak kesehatan tubuh, tapi juga bisa memicu guncangan emosional yang berat. Agar tetap tangguh di tengah badai, kita perlu "menanam" kebiasaan-kebiasaan baik dalam keseharian. Jangan khawatir, ada banyak langkah nyata yang bisa kamu ambil sejak saat ini untuk menata kembali dan menjaga kesehatan mental agar tetap stabil, seperti:1. Menerapkan Gaya Hidup Sehat Mulailah memprioritaskan gaya hidup sehat dengan menjaga asupan nutrisi yang seimbang dan rutin berolahraga. Ingatlah bahwa kondisi fisik yang bugar adalah fondasi utama bagi kesehatan mental, di mana tubuh yang terawat akan membantu otak memproduksi hormon kebahagiaan secara alami untuk menghalau stres.2. Kenali Potensi DiriSehat mental dimulai dengan menyadari apa yang kita kuasai. Dengan memahami kelebihan diri, kita memiliki "jangkar" saat kepercayaan diri mulai goyah.3. Keseimbangan Tiga PilarJangan hanya fokus pada fisik (olahraga dan makan), tapi beri nutrisi pada rohani yaitu dengan beribadah atau meditasi dan aspek sosial dengan menjaga hubungan baik dengan orang lain.4. Berbagi dan BerkontribusiSalah satu tanda jiwa yang sehat adalah kemampuan untuk peduli pada sesama. Terlibat dalam kegiatan sosial atau sekadar membantu teman bisa memberikan rasa bermakna yang menjadi sumber kebahagiaan.5. Terima "Cuaca" yang AdaMenjadi tangguh bukan berarti pura-pura bahagia. Akui jika kamu sedang lelah, namun jangan biarkan kelelahan itu menghentikan langkahmu untuk mencari bantuan atau beristirahat.6. Minta BantuanIngatlah bahwa meminta pertolongan saat merasa lelah adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan. Mintalah bantuan dengan cara:Bergabung dengan orang-orang yang dapat membantu merubah cara berpikir dan perilakuMencari tenaga ahli, seperti psikolog atau konselor, untuk membantu mengelola perasaan dan memperbaiki mentalMendatangi layanan setempat terkait masalah yang sedang Anda hadapi, seperti bantuan hukum, keuangan dan lain sebagainya Kesehatan mental adalah investasi jangka panjang. Dengan menjaga keselarasan antara raga, jiwa, dan peran sosial kita, kita sedang membangun benteng yang kokoh. Ingatlah bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang kita tunggu setelah badai berlalu, melainkan sesuatu yang kita tanam dan rawat, bahkan saat hujan masih turun dengan derasnya. “Sudahkah kamu memberikan ruang untuk kedamaian mentalmu hari ini?” Daftar PustakaWorld Health Organization. (2022). Mental health: Strengthening our response. World Health Organization. WHO Mental HealthWorld Health Organization. (2023). Mental disorders. World Health Organization. WHO Anxiety DisordersKementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Stres dan cara mengatasinya. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Info Stress KemenkesKementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Kesehatan jiwa. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kemenkes RI - Kesehatan Jiwa -PKRS

Kebersihan Tangan sebagai Kunci Utama Pencegahan Infeksi
kesehatan

Kebersihan tangan merupakan salah satu upaya paling efektif dalam mencegah penyebaran infeksi, baik di fasilitas pelayanan kesehatan maupun di masyarakat. Namun, bukti menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap praktik kebersihan tangan masih belum optimal secara global. Hingga tahun 2018, tingkat kepatuhan rata-rata di unit perawatan intensif mencapai 59,6%, dengan perbedaan yang cukup besar antara negara berpenghasilan tinggi (64,5%) dan negara berpenghasilan rendah (9,1%) (de Kraker et al., 2019).Rendahnya kepatuhan ini menunjukkan pentingnya peningkatan kesadaran dan edukasi mengenai praktik kebersihan tangan yang benar. Salah satu metode yang paling sederhana dan efektif adalah mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.Cuci tangan merupakan proses pembersihan tangan secara mekanis untuk menghilangkan kotoran dan mikroorganisme menggunakan sabun dan air mengalir (WHO, 2009). Meskipun tangan terlihat bersih, berbagai kuman seperti bakteri dan virus tetap dapat menempel setelah beraktivitas sehari-hari.Cuci tangan pakai sabun terbukti efektif dalam mencegah berbagai penyakit, seperti diare dan infeksi saluran pernapasan (CDC, 2022). Menurut Kementerian Kesehatan kebiasaan cuci tangan perlu dilakukan secara rutin, terutama pada waktu-waktu penting seperti:Sebelum dan sesudah makanSetelah menggunakan toiletSetelah batuk atau bersiSetelah menyentuh benda di tempat umum Adapun langkah-langkah mencuci tangan yang benar meliputi:Membasahi tangan dengan air mengalirMenggunakan sabun secukupnyaRatakan sabun dengan kedua telapak tanganGosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan sebaliknyaGosok kedua telapak dan sela-sela jariGosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan sebaliknyaGosokkan dengan memutar ujung jari tangan kanan di telapak tangan kiri dan sebaliknyaBilas dengan air bersih yang mengalirKeringkan tangan anda dengan kain sekali pakai atau tissueDan tangan anda sudah aman.Poster Langkah Cuci TanganKebiasaan mencuci tangan secara rutin tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga orang lain dari risiko penularan penyakit. Dengan demikian, praktik ini menjadi bagian penting dalam upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan.Cuci tangan pakai sabun merupakan tindakan sederhana namun memiliki dampak besar dalam pencegahan penyakit. Meskipun demikian, tingkat kepatuhan terhadap praktik kebersihan tangan masih perlu ditingkatkan melalui edukasi dan sosialisasi yang berkelanjutan. Dengan menerapkan kebiasaan mencuci tangan secara benar dan rutin, diharapkan dapat menurunkan angka kejadian penyakit menular serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Daftar Pustakade Kraker MEA, Tartari E, Tomczyk S, Twyman A, Francioli LC, Cassini A, et al. Implementation of hand hygiene in health-care facilities: results from the WHO Hand Hygiene Self-Assessment Framework global survey 2019. Lancet Infect Dis. 2019.World Health Organization. WHO guidelines on hand hygiene in health care. Geneva: WHO Press; 2009.Centers for Disease Control and Prevention. Handwashing: clean hands save lives. Atlanta: CDC; 2022.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Jakarta: Kemenkes RI; 2020. -PKRS