RS Santa Elisabeth Ganjuran

Mengapa Memilih Kami?

Dedikasi kami untuk kesehatan dan kenyamanan Anda.

Menerima BPJS

Kami melayani pasien peserta BPJS Kesehatan untuk mempermudah akses layanan kesehatan.

Layanan 24 Jam

Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan layanan penunjang kami siap siaga 24 jam penuh.

Dokter Ahli

Ditangani oleh tim dokter spesialis dan tenaga medis profesional yang berpengalaman.

Layanan Home Care

Layanan kunjungan medis ke rumah untuk pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan.

Berita & Artikel

Informasi kesehatan terkini untuk Anda dan keluarga.

Lihat Semua
Malaria: Ancaman yang Masih Nyata — Mengapa Kita Masih Lengah?
kesehatan

Setiap tanggal 25 April, dunia memperingati Hari Malaria Sedunia sebagai pengingat bahwa meskipun penyakit ini telah dikenal sejak lama, malaria masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan global, terutama di negara tropis seperti Indonesia.Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk betina dari genus Anopheles. Ketika nyamuk yang terinfeksi menggigit manusia, parasit masuk ke dalam aliran darah dan kemudian menuju hati sebelum akhirnya menginfeksi sel darah merah. Proses inilah yang menjadi dasar munculnya berbagai gejala klinis malaria.Terdapat beberapa jenis malaria yang dibedakan berdasarkan spesies parasit penyebabnya. Yang paling sering ditemukan adalah Plasmodium falciparum, yang dikenal sebagai penyebab malaria berat dan berpotensi fatal. Selain itu, terdapat Plasmodium vivax, yang sering menyebabkan kekambuhan karena parasit dapat “bersembunyi” di hati dalam bentuk dorman. Jenis lainnya seperti Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale umumnya menyebabkan gejala yang lebih ringan, meskipun tetap memerlukan penanganan yang tepat.Gejala malaria seringkali dimulai dengan demam yang muncul secara periodik, disertai menggigil hebat, berkeringat, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Pola demam ini khas karena mengikuti siklus pecahnya sel darah merah yang terinfeksi parasit. Pada kasus yang lebih berat, terutama akibat Plasmodium falciparum, kondisi dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti anemia berat, gangguan kesadaran (malaria serebral), gagal ginjal, hingga kematian.Yang membuat malaria tetap berbahaya adalah kemampuannya berkembang cepat bila tidak segera ditangani. Oleh karena itu, diagnosis dini menjadi kunci. Pemeriksaan laboratorium seperti apusan darah tebal dan tipis masih menjadi standar emas untuk mengidentifikasi parasit. Saat ini, rapid diagnostic test (RDT) juga banyak digunakan untuk deteksi cepat di lapangan.Penanganan malaria telah mengalami banyak perkembangan. Terapi utama saat ini adalah penggunaan obat antimalaria berbasis kombinasi artemisinin (ACT), yang terbukti efektif melawan sebagian besar spesies Plasmodium. Pemilihan regimen terapi disesuaikan dengan jenis parasit, tingkat keparahan, serta kondisi pasien. Pada kasus malaria berat, terapi harus diberikan secara intravena di fasilitas kesehatan dengan pemantauan ketat.Namun, pengobatan saja tidak cukup. Upaya pencegahan memegang peranan yang sangat penting dalam menekan angka kejadian malaria. Penggunaan kelambu berinsektisida, penyemprotan rumah dengan insektisida residual, serta pengendalian lingkungan untuk mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk merupakan langkah-langkah yang telah terbukti efektif. Selain itu, penggunaan obat profilaksis pada kelompok berisiko tinggi juga dapat dipertimbangkan.Di tingkat global, World Health Organization melaporkan bahwa ratusan juta kasus malaria masih terjadi setiap tahunnya, dengan angka kematian yang signifikan, terutama pada anak-anak di wilayah Afrika Sub-Sahara. Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan dalam eliminasi malaria, meskipun beberapa daerah telah berhasil mencapai status bebas malaria.Kondisi lingkungan, perubahan iklim, mobilitas penduduk, serta resistensi terhadap obat dan insektisida menjadi faktor yang terus mempersulit upaya pengendalian malaria. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan harus bersifat komprehensif, melibatkan sektor kesehatan, lingkungan, dan masyarakat.Hari Malaria Sedunia bukan hanya sekadar peringatan, tetapi juga ajakan untuk terus meningkatkan kesadaran dan komitmen dalam melawan penyakit ini. Malaria bukanlah penyakit masa lalu. Ia masih ada, masih mengancam, dan masih membutuhkan perhatian kita semua.Malaria tidak menunggu. Maka kesadaran, pencegahan, dan tindakan kita juga tidak boleh terlambat.drg. Sukma Paramastri, Sp.KGPKRS

Hari Bising Sedunia: Ketika Suara Tak Lagi Sekedar Suara
kesehatan

Setiap tahun, dunia memperingati Hari Bising Sedunia sebagai pengingat bahwa suara yang sering kita anggap biasa dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan jika melebihi batas aman. Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi kendaraan, mesin, musik keras, hingga aktivitas industri, paparan bising telah menjadi bagian dari keseharian yang sering diabaikan.Secara ilmiah, bising didefinisikan sebagai suara yang tidak diinginkan dan berpotensi mengganggu kesehatan serta kenyamanan. Tidak semua suara berbahaya, tetapi ketika intensitasnya tinggi dan berlangsung lama, dampaknya bisa melampaui sekadar gangguan—bahkan hingga merusak fungsi tubuh.Apa Itu Bising dan Bagaimana Dampaknya?     Bising diukur dalam satuan desibel (dB). Organisasi seperti World Health Organization menetapkan bahwa paparan suara di atas 85 dB dalam waktu lama dapat menyebabkan gangguan pendengaran.Namun, dampak bising tidak hanya terbatas pada telinga. Paparan kronis dapat memengaruhi:• Sistem saraf (menyebabkan stres dan kecemasan)• Sistem kardiovaskular (meningkatkan risiko hipertensi)• Kualitas tidur (gangguan tidur kronis)• Konsentrasi dan produktivitasDengan kata lain, bising adalah masalah kesehatan sistemik, bukan hanya gangguan lokal pada telinga.Jenis-Jenis BisingBising dapat diklasifikasikan berdasarkan karakteristiknya:1. Bising kontinuSuara yang berlangsung terus-menerus, seperti mesin industri.2. Bising intermitenSuara yang muncul dan hilang, seperti lalu lintas kendaraan.3. Bising impulsifSuara mendadak dengan intensitas tinggi, seperti ledakan atau petasan.4. Bising frekuensi rendah dan tinggiMasing-masing memiliki dampak berbeda terhadap persepsi dan kenyamanan manusia.Kondisi Klinis Akibat Bising     Paparan bising yang berlebihan dapat menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai Noise-Induced Hearing Loss (NIHL), yaitu gangguan pendengaran akibat kerusakan sel rambut di koklea yang bersifat permanen.Gejala awal sering kali tidak disadari, seperti:• Telinga berdenging (tinnitus)• Kesulitan mendengar percakapan di tempat ramai• Penurunan sensitivitas terhadap suara frekuensi tinggiJika paparan terus berlanjut, kerusakan menjadi irreversibel.Seberapa Besar Masalah Ini?Menurut data global dari World Health Organization:• Lebih dari 1 miliar remaja dan dewasa muda berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat paparan bising• Sekitar 430 juta orang di dunia hidup dengan gangguan pendengaran yang signifikan• Paparan bising lingkungan (lalu lintas, urbanisasi) menjadi salah satu faktor utamaDi negara berkembang, termasuk Indonesia, angka ini berpotensi lebih tinggi karena kurangnya kesadaran dan perlindungan terhadap paparan bising.Penanganan dan ManajemenPenanganan gangguan akibat bising bergantung pada tingkat keparahan:1. Deteksi dinio Pemeriksaan audiometrio Skrining pada populasi berisiko2. Intervensi mediso Terapi suportifo Alat bantu dengar pada kasus berat3. Rehabilitasio Pelatihan komunikasio Edukasi pasienNamun perlu dipahami, pada banyak kasus, kerusakan pendengaran akibat bising tidak dapat dipulihkan sepenuhnya.Antisipasi dan PencegahanPencegahan adalah kunci utama. Beberapa langkah yang dapat dilakukan:• Menggunakan pelindung telinga (earplug/earmuff) di lingkungan bising• Membatasi penggunaan earphone dengan volume tinggi• Mengatur durasi paparan suara• Menerapkan regulasi kebisingan di lingkungan kerja• Edukasi masyarakat sejak diniKonsep sederhana yang sering digunakan adalah aturan 60/60: mendengarkan audio maksimal 60% volume selama tidak lebih dari 60 menit.Makna Hari Bising Sedunia     Hari Bising Sedunia bukan hanya tentang mengurangi suara, tetapi tentang menjaga kualitas hidup. Di era modern, kita tidak bisa sepenuhnya menghindari bising, tetapi kita bisa mengelolanya.     Kesadaran menjadi langkah pertama. Karena sering kali, kerusakan terjadi bukan karena kita tidak tahu, tetapi karena kita tidak menyadari dampaknya sejak awal.     Bising mungkin tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata dan dapat berlangsung seumur hidup. Setiap suara yang terlalu keras, setiap paparan yang terlalu lama, perlahan mengikis kemampuan kita untuk mendengar dunia dengan jelas."Hari ini, kita punya pilihan: mengabaikan, atau mulai melindungi. Karena menjaga pendengaran bukan hanya tentang telinga tetapi tentang mempertahankan kualitas hidup, komunikasi, dan koneksi kita dengan dunia di sekitar."drg. Sukma Paramastri, Sp.KGPKRS

Webinar Nasional Tata Laksana Acute Coronary Syndrome (ACS)
kesehatan

Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, telah diselenggarakan Webinar Nasional dengan tema “Tata Laksana Acute Coronary Syndrome (ACS)” pada Rabu, 15 April 2026 secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini ditujukan bagi tenaga kesehatan yang meliputi dokter umum, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, serta perawat. Webinar ini menjadi sarana edukasi dan pengembangan kompetensi dalam penanganan pasien Acute Coronary Syndrome (ACS) secara komprehensif dan berbasis bukti ilmiah.Profil Webinar ACS.JPG 2.26 MB     Acute Coronary Syndrome (ACS) merupakan kondisi kegawatdaruratan yang memerlukan penanganan cepat, tepat, dan terintegrasi guna menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Oleh karena itu, pemahaman yang baik terkait tata laksana medis dan asuhan keperawatan sangat diperlukan.     Materi pertama disampaikan oleh dr. Steven Setiawan, Sp.JP selaku Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan mengenai ACS, Etiologi ACS, Faktor Risiko ACS, Patofisiologi ACS, Konsep Golden Time pada ACS, Manifestasi Klinis ACS, Diagnosis Dini dalam Golden Timen, Penatalaksanaa ACS. Ditekankan pentingnya prinsip time is muscle, di mana kecepatan penanganan sangat menentukan prognosis pasien. Selain itu, dibahas pula terapi farmakologis serta tindakan reperfusi sebagai bagian utama dalam penanganan ACS.     Selanjutnya, Eva Marti, S.Kep., Ns., M.Kep, dosen STIKes Panti Rapih Yogyakarta, menyampaikan materi terkait penerapan evidence-based nursing (EBN) melalui asuhan keperawatan berbasis pendekatan 4S, yaitu SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia), serta SPO (Standar Prosedur Operasional) pada pasien ACS. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan mutu asuhan keperawatan yang sistematis, terukur, dan sesuai standar.     Materi ketiga disampaikan oleh Agustina Rahmawati, S.Kep., Ns, perawat dari RS Santa Elisabeth, yang membahas penerapan evidence-based nursing melalui teknik thermotherapy untuk membantu mengurangi nyeri dada pada pasien dengan ACS. Intervensi ini merupakan salah satu terapi non-farmakologis yang dapat digunakan sebagai upaya pendukung dalam meningkatkan kenyamanan pasien.     Kegiatan ini dipandu oleh moderator Siska Mastifa, S.Kep., Ns, perawat dari RS Santa Elisabeth, yang memastikan jalannya diskusi berlangsung interaktif dan terarah. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya sesi tanya jawab yang menunjukkan tingginya minat terhadap topik yang dibahas.Webinar ACS (1).JPG 2.34 MB     Melalui kegiatan webinar ini, diharapkan tenaga kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam penanganan Acute Coronary Syndrome secara cepat, tepat, dan berbasis bukti, sehingga mampu memberikan pelayanan kesehatan yang optimal dan berkualitas bagi masyarakat.PKRS